PalmCo: Kemitraan Petani Kunci Kemandirian Pangan dan Energi

Jumat, 07 Agustus 2026 | 08:37:45 WIB

Pekanbaru (BIC)-PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo menempatkan petani sebagai ujung tombak penguatan industri sawit nasional. Kemitraan dengan perkebunan rakyat dinilai menjadi strategi utama meningkatkan produktivitas, menjaga pasokan bahan baku, sekaligus menopang ketahanan pangan dan energi Indonesia.

Pesan itu disampaikan Direktur SDM dan Umum PTPN IV PalmCo, Suhendri, saat menjadi pembicara dalam Seminar Sawit Indonesia Expo 2026 di SKA Convention and Exhibition Pekanbaru, Kamis (6/8). Forum yang berlangsung bersamaan dengan pameran industri sawit terbesar di Indonesia itu mempertemukan perusahaan, petani, akademisi, penyedia teknologi, dan pemerintah.

Suhendri menilai peningkatan produktivitas sawit nasional harus dimulai dari perkebunan rakyat. Saat ini sekitar 6,9 juta hektare atau mayoritas kebun sawit Indonesia dikelola petani. Kondisi tersebut menjadikan kemitraan sebagai fondasi menjaga keberlanjutan industri sawit nasional.

Menurutnya, kenaikan produktivitas perkebunan rakyat sebesar 1,3 ton crude palm oil (CPO) per hektare berpotensi menambah produksi nasional hingga 8,97 juta ton CPO. Tambahan produksi itu dinilai cukup memperkuat kebutuhan domestik, termasuk program biodiesel B50, tanpa mengurangi kapasitas ekspor.

PalmCo memperkuat strategi tersebut melalui percepatan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), penyediaan benih unggul, akses pembiayaan, pendampingan teknis, kepastian pembelian tandan buah segar (TBS), penguatan koperasi, serta sistem ketertelusuran atau traceability.

Hingga Mei 2026, luas kemitraan PalmCo telah mencapai 52.480 hektare, meliputi program revitalisasi kebun, konversi karet menjadi sawit, serta PSR yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Perusahaan menargetkan kemitraan berkembang menjadi 64.176 hektare pada 2029.

Program tersebut mulai menunjukkan hasil. Sejumlah koperasi binaan PalmCo di Kabupaten Rokan Hulu mampu meningkatkan produktivitas kebun hingga lebih dari 20 ton per hektare. Dampaknya terlihat pada meningkatnya sisa hasil usaha (SHU) koperasi serta penguatan kelembagaan petani.

PalmCo juga memperluas strategi ke sektor hilir melalui pengembangan biodiesel, minyak goreng, shortening, cocoa butter substitutes (CBS), hingga compressed biomethane gas (CBG). Seluruh rantai pasok itu disiapkan untuk memperkuat nilai tambah sawit di dalam negeri dengan dukungan pasokan dari kebun inti maupun petani mitra.

Sawit Indonesia Expo 2026 dibuka Plt Gubernur Riau SF Hariyanto dan berlangsung pada 6–8 Agustus. Ratusan pelaku industri sawit dari berbagai daerah mengikuti agenda tersebut, termasuk kalangan akademisi dan pakar industri yang membahas masa depan sawit nasional.***

Terkini