Pekanbaru (BIC)-Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) CW Wicaksono menegaskan, hubungan (relation) antara industri migas dan media harus dibangun di atas satu fondasi utama, yakni kepercayaan (trust).
"Relation adalah Trust," kata Wicaksono kepada Wartawan, Selasa (13/1/2026).
Wicaksono menyebut kolaborasi dengan media merupakan kebutuhan strategis sektor migas.
Media dipandang sebagai bagian penting dari stakeholder yang harus dilayani, terutama dalam membangun pemahaman publik.
"Sektor migas ini masih sangat minim sosialisasi. Banyak yang menyamakan migas dengan batu bara atau sawit, padahal sistem, risiko, dan industrinya sangat berbeda," ujarnya.
Menurutnya, keterbatasan pemahaman inilah yang kerap memicu kesalahpahaman antara industri migas dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat.
Dalam kondisi tersebut, media memiliki peran krusial sebagai jembatan informasi.
"Bagi saya, kuncinya cuma satu: trust. Dan trust itu tidak bisa dibuat-buat atau dipaksakan. Trust akan datang dengan sendirinya melalui proses," tegas Toni panggilan akrabnya.
Ia menjelaskan, proses membangun kepercayaan dimulai dari saling mengenal, lalu berlanjut pada saling memahami tanpa prasangka. Dalam tahapan inilah relation terbentuk.
"Kalau mau memahami, gelas kita harus dikosongkan dulu. Kalau sudah penuh prasangka, mau ditambah apa pun pasti tumpah. Relation itu lahir dari saling memahami, dan relation itulah trust," katanya.
Wicaksono menegaskan SKK Migas terbuka terhadap seluruh insan pers tanpa memandang klasifikasi atau tingkat media. Baginya, semua wartawan memiliki posisi yang sama selama niatnya baik dan terbuka.
"Tidak ada wartawan kelas satu atau kelas sepuluh. Semua penting. Siapapun yang ingin bertemu, kami terima. Respect itu bagian dari proses memahami," ujarnya.
Ia juga menilai gesekan dalam proses komunikasi adalah hal wajar dan justru menandakan hubungan semakin dekat.
"Kalau tidak ada gesekan, berarti kita jauh. Gesekan itu bagian dari proses untuk semakin memahami dan akhirnya semakin dekat," kata Wicaksono.
Ia mengakui, sosialisasi bukanlah bidang utama SKK Migas sehingga membutuhkan peran aktif media.
Bahkan, ia menyebut banyak pemangku kepentingan daerah belum memahami tugas dan peran sektor hulu migas.
"Yang dilihat sering kali migas itu mewah dan eksklusif, seperti ATM. Padahal realitasnya tidak sesederhana itu," ungkapnya.
Oleh karena itu, Wicaksono berharap sinergi dengan media terus diperkuat agar informasi tentang migas dapat disampaikan secara objektif dan berimbang.
"Kami fokus mencari minyak. Untuk bicara dan menjelaskan ke publik, kami butuh teman-teman media. Karena dari relation yang sehat, trust akan tumbuh dengan sendirinya," tutupnya.***(jin)