Dari Tanah Transmigrasi, Persaudaraan Ribuan Petani Sawit Terawat Lintas Generasi

Selasa, 27 Oktober 2026 | 17:25:51 WIB

Pekanbaru (BIC)-Hampir empat dekade sejak kawasan perkebunan kelapa sawit Transmigrasi Perkebunan Inti Rakyat (Trans-PIR) ADB dikembangkan di Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Riau, ikatan persaudaraan masyarakatnya tetap terjaga lintas generasi. Sejarah yang sama kembali menyatukan sedikitnya 1.500 warga dari sembilan desa dalam Pengajian Akbar Jam’iyah Al Ittihadiyah di Desa Tri Manunggal, akhir pekan lalu.

Pertemuan tersebut sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-34 Desa Tri Manunggal. Lebih dari sekadar kegiatan keagamaan, acara itu menjadi momentum merawat silaturahmi dan mengenang perjalanan keluarga petani yang membangun kehidupan dari kawasan transmigrasi hingga berkembang menjadi desa-desa seperti sekarang.

Sebagian warga merupakan keluarga petani mitra PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV Regional III, yang sebelumnya dikenal sebagai PTPN V. Meski kini tinggal di desa dengan pemerintahan masing-masing, mereka tetap terhubung melalui sejarah panjang perkebunan rakyat yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Kepala Desa Tri Manunggal, Edi Bambang, mengatakan kebersamaan masyarakat sembilan desa telah tumbuh selama puluhan tahun dan menjadi modal sosial yang penting untuk dipertahankan.

“Selama puluhan tahun, masyarakat di sembilan desa ini tumbuh dan berkembang bersama. Kami memiliki sejarah yang sama, membangun kehidupan dari kawasan transmigrasi hingga menjadi desa-desa yang terus berkembang seperti sekarang,” katanya.

Sejarah kawasan tersebut bermula pada periode 1986–1991, ketika PTPN V mengembangkan perkebunan rakyat melalui program Trans-PIR dengan dukungan pendanaan Asian Development Bank (ADB). Program itu mendorong pengembangan perkebunan kelapa sawit sekaligus pembentukan permukiman masyarakat transmigrasi di Riau.

Seiring waktu, kawasan tersebut berkembang menjadi sembilan desa, yakni Sumber Makmur, Tri Manunggal, Tanjung Sawit, Indrapuri, Mukti Sari, Indra Puri, Pelambaian, Gading Sari, dan Kijang Rejo. Perkebunan menjadi salah satu penopang ekonomi, sementara kehidupan sosial masyarakat berkembang bersama pertumbuhan permukiman dan fasilitas umum.

Bagi generasi pertama, kawasan Trans-PIR ADB menjadi tempat merintis kehidupan. Bagi anak dan cucu mereka, wilayah tersebut telah menjadi kampung halaman untuk tumbuh, bekerja, dan membangun masa depan.

Edi menegaskan keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi dan kemajuan infrastruktur. Kerukunan, kepedulian, serta semangat gotong royong juga menjadi bagian penting yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Keberhasilan pembangunan bukan hanya diukur dari kemajuan ekonomi, tetapi juga dari persaudaraan, kerukunan, dan semangat gotong royong yang terus terjaga,” ujarnya.

Ikatan masyarakat Trans-PIR ADB juga menjadi bagian dari perjalanan kemitraan perkebunan bersama PTPN IV Regional III. Hubungan yang berawal dari kegiatan usaha perkebunan rakyat itu berkembang seiring perjalanan masyarakat selama puluhan tahun.

Manajer Kebun/PKS Sei Garo PTPN IV Regional III, Rico Irwansyah Surbakti, mengatakan keberlanjutan perkebunan tidak hanya bergantung pada produktivitas dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga hubungan sosial yang harmonis antara perusahaan dan masyarakat.

“Ketika perusahaan dan masyarakat memiliki ikatan yang kuat, semangat untuk saling mendukung dan tumbuh bersama juga akan semakin besar,” kata Rico.

Menurutnya, hubungan baik yang terbangun saat ini merupakan hasil proses panjang yang dirintis generasi sebelumnya. Karena itu, kemitraan perlu dirawat melalui komunikasi, keterlibatan perusahaan dalam kehidupan sosial, serta upaya memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

“Kami ingin keberadaan perusahaan senantiasa memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Hubungan baik yang telah dibangun para pendahulu harus terus kita rawat dan wariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

Pengajian akbar tersebut turut dihadiri ulama asal Kebumen, Jawa Tengah, KH Miftahuddin Zuhri, tokoh agama, tokoh masyarakat, unsur pemerintah desa, serta perwakilan PTPN IV Regional III.

Pertemuan lintas desa itu memperlihatkan bagaimana sejarah perkebunan mampu membentuk ikatan sosial yang bertahan melewati pergantian generasi. Hampir empat dekade setelah kawasan Trans-PIR ADB mulai dikembangkan, masyarakat terus tumbuh bersama di tengah perubahan zaman.***

Terkini