Minus Iman, Tak Kuat Miskin Purba Bunung Diri di Pohon Alpukat

Senin, 19 September 2016 | 07:39:35 WIB
Korban saat digotong dari ladangnya

Simalungun (Beritaintermezo.com) – Diduga karena kondisi ekonomi yang kurang memadai, Rusdi Purba (63), mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di pohon Alpukat di ladangnya.

Peristiwa yang terjadi di Huta Urung, Nagori Bahapal Raya, Kecamatan Raya, Simalungun, ini pertama kalinya disaksikan warga setempat, Jawanter Purba bersama istrinya Herlina Sinaga saat berada di ladangnya Jumat (16/9) sekitar pukul 09.00 WIB lalu.

Saat itu Jawanter bersama istrinya hendak mengambil bambu. Tapi saat itu, mereka melihat ada sosok manusia tergantung di pohon alpukat. Seketika mereka langsung mengabari warga. Selanjutnya disampaikan kepada pihak kepolisian. Dalam hitungan menit, warga bersama personel kepolisian Sektor Raya tiba di lokasi.

Saat itu korban terlihat sudah tergantung dengan tali terikat di lehernya. Bahkan di pohon tersebut, ada satu buah papan berdiri bertuliskan 'Inilah yang terbaik dalam hidupku dari pada aku lebih tersiksa’

Tulisan ini diduga dibuat korban dengan menggunakan arang sisa bakaran kayu.

Sementara itu, tali yang digunakan korban untuk menjerat lehernya adalah tali nilon yang dipadukan dengan kabel tembaga.

Setelah kepolisian menurunkan tubuh korban dan melakukan olah TKP, jenazah korban selanjutnya dibawa ke RSUD Tuan Rondahaim untuk divisum.

Berdasarkan keterangan kepolisian, dari hasil olah TKP, tidak ada ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban, sehingga korban disimpulkan murni bunuh diri. Dan setelah pihak keluarga juga memastikan korban murni bunuh diri, jasad korban selanjutnya dibawa ke rumah duka yang disambut isak tangis keluarga.
Sudah Bosan Aku Hidup, Mati Saja Aku

Dame br Sitompul, istri korban tak kuasa menahan tangis setelah melihat suaminya terbujur kaku. Dalam tangisannya, Dame mengungkapkan kekesalannya atas pilihan suaminya.

"Kenapa harus dengan cara seperti ini kau pergi? Kau bilang mau mangutip (memetik) kopinya, rupanya ininya maksudmu ini," ujar Dame dalam tangisnya.

Sembari menangis, kepada sanak keluarga, Dame menceritakan bahwa sebelum kejadian, suaminya sudah bangun pukul 05.00 WIB. Korban meminta Dame untuk membuat teh manis. Lalu, Dame membuatkannya dan menyediakan roti untuk sarapan.

Setelah minumannya habis, korban kemudian berkata mau pergi ke ladang untuk memetik kopi. Tapi, korban berpesan, agar istrinya tidak usah cepat menyusul ke ladang.

"Disuruhnya aku memetik kopi di depan rumah, setelah selesai baru aku ke ladang," cerita Dame tentang aktivitas mereka sebelum ada kejadian.

Perkataan korban dituruti Dame tanpa curiga sama sekali. Alangkah terkejutnya ia beberapa jam kemudian mendapat kabar suaminya telah gantung diri.

"Rupanya itu maksudnya supaya dia pergi duluan ke ladang. Kalau taunya seperti ini, kenapa tidak ikut saja aku," ungkap Dame lagi.

Dame melanjutkan ceritanya jika koban berperilaku aneh beberapa hari terakhir. Misalnya jika mereka mempunyai pergumulan tentang ekonomi. Dimana dua anaknya; Monang Purba dan Ruth Oktavia Purba sedang kuliah di Universitas Pelita Harapan Jakarta. Mereka meminta dibelikan laptop untuk keperluan kuliah. Tapi karena tidak ada uang, Dame berusaha meminjam kepada keluarga. Lantaran tidak ada hasil, korban semakin bingung untuk memenuhi permintaan anaknya itu.

Bahkan, pada Kamis (15/9), korban melayangkan pesan singkat kepada anaknya.

"Masih makan kalian? Kalau tidak makan, pulang aja ke kampung," ujar Dame mengisahkan pesan singkat yang dikirimkan korban.

Itu diketahui Dame setelah anaknya langsung mendapat SMS korban.

"Mak, kenapa kayak gitu SMS Bapak? Lalu kujawablah, udahlah, gak usah kau pikirkan itu. Yang penting rajin kalian sekolah, kalau laptop itu, bisanya kami beli itu," terang Dame menerangkan percakapan dengan anaknya.

Masih di hari yang sama, Dame melihat korban bertingkah aneh. Biasanya, korban malas jika diajak memetik kopi. Tapi pada hari itu, korban mau ke ladang dan memetik kopi.

"Biasanya dia paling malas kalau memanen kopi. Namun sebelumnya, dia telah mengaku gelisah. Katanya, sudah bosan aku hidup, mati saja aku. Lalu kujawablah, kenapa seperti itu, pak? Kan yang ber-Tuhan-nya kita. Gak usah bapak pikirkan kali. Kalau laptop anak kita itu, udahnya minta tolong sama keluarga. Berdoa aja kita," kata Dame mengisahkan percakapannya dengan korban.

Sementara itu, menurut pengakuan warga sekitar Kornelis Saragih, korban dikenal cukup baik bahkan pintar berbahasa Inggris dan Matematika.
"Sebelumnya tidak ada kita mendengar adanya perselisihan atau perkelahian di kampung ini. Tapi tindakan dia ini cukup disayangkan, anak-anaknya semangat, udah masuk bebas testing ke Universitas Pelita Harapan, ternyata dia tidak," ungkap Kornelis. (mc/bic)

Terkini