PKS Sei Tapung Sulap Limbah Sawit Jadi Pupuk dan Energi Terbarukan

PKS Sei Tapung Sulap Limbah Sawit Jadi Pupuk dan Energi Terbarukan

Kampar (BIC)-Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Sei Tapung PTPN IV Regional III terus mengoptimalkan pemanfaatan limbah hasil pengolahan kelapa sawit sebagai bagian dari penerapan ekonomi sirkular dan industri berkelanjutan. Tandan kosong (tankos), abu janjang, hingga limbah cair kini dimanfaatkan kembali untuk mendukung produktivitas kebun dan menghasilkan energi terbarukan.

Pj Manajer PKS Sei Tapung, Devario Ibnurusd S., mengatakan tankos dimanfaatkan sebagai pupuk organik karena memiliki kandungan bahan organik yang mampu meningkatkan kesuburan tanah, memperbaiki struktur lahan, serta menjaga ketersediaan unsur hara secara alami.

“Pemanfaatan tankos menjadi bagian dari upaya mendukung budidaya sawit yang lebih lestari sekaligus mengoptimalkan seluruh produk samping agar memberikan manfaat yang lebih luas,” ujarnya.

Selama ini, PKS Sei Tapung rutin menyalurkan tankos kepada petani di sekitar wilayah operasional secara gratis melalui mekanisme pengajuan kepada manajemen pabrik. Program tersebut membantu petani memperoleh pupuk organik di tengah tingginya harga pupuk komersial.

Namun, lebih dari satu bulan terakhir penyaluran tankos dihentikan sementara. Manajemen memprioritaskan pemanfaatan tankos dan abu janjang untuk kebutuhan kebun inti guna mendukung produktivitas serta perbaikan kualitas lahan perusahaan.

“Tidak ada praktik jual beli tankos kepada masyarakat. Penyaluran selama ini dilakukan cuma-cuma sebagai bentuk dukungan kepada petani,” kata Devario.

Kebijakan itu mendapat respons positif dari petani. Idang, petani di sekitar wilayah operasional perusahaan, mengaku program tersebut membantu menekan biaya perawatan kebun sekaligus meningkatkan produktivitas tanaman.

Selain memanfaatkan limbah padat, PKS Sei Tapung juga mengolah limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) menjadi energi baru terbarukan melalui fasilitas Pembangkit Tenaga Biogas (PTBg) Co-firing yang beroperasi sejak 2023.

Fasilitas tersebut menggunakan teknologi Covered In-Ground Anaerobic Reactor (CIGAR) untuk menangkap gas metana hasil pengolahan limbah cair. Kapasitas terpasang mencapai 20.000 meter kubik atau setara 700 Nm³ biogas per jam.

Teknologi itu memungkinkan limbah yang sebelumnya berpotensi menghasilkan emisi gas rumah kaca diubah menjadi sumber energi yang mendukung operasional perusahaan sekaligus berkontribusi pada target pengurangan emisi nasional.

“Tankos dan abu janjang dimanfaatkan untuk kesuburan lahan, sementara limbah cair diolah menjadi energi terbarukan. Manfaatnya tidak hanya dirasakan perusahaan, tetapi juga lingkungan dan masyarakat,” ujar Devario.

Optimalisasi pemanfaatan limbah tersebut menjadi bagian dari transformasi industri sawit modern yang menempatkan aspek keberlanjutan sebagai prioritas. Melalui pengelolaan limbah yang terintegrasi, PKS Sei Tapung menunjukkan industri sawit tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah bagi lingkungan dan masyarakat.***

#Ekonomi

Index

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index