PTPN IV PalmCo Perkuat Kepercayaan Petani, Kemitraan Sawit Jadi Kunci Produktivitas

PTPN IV PalmCo Perkuat Kepercayaan Petani, Kemitraan Sawit Jadi Kunci Produktivitas

Pekanbaru (BIC)-Kepercayaan menjadi fondasi utama PTPN IV PalmCo dalam membangun kemitraan perkebunan sawit yang produktif dan berkelanjutan bersama petani.

Komitmen itu kembali ditegaskan manajemen PTPN IV PalmCo saat menerima kunjungan studi banding petani, pengurus koperasi, pemerintah desa, serta perwakilan dinas perkebunan dari Kalimantan Barat ke PTPN IV Regional III di Riau, Minggu (4/10/2026).

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko Santosa mengatakan perusahaan dan petani harus tumbuh bersama. Kesejahteraan perusahaan tidak dapat dipisahkan dari kesejahteraan petani sebagai mitra.

“Kalaupun mau maju, kalaupun mau sejahtera, petaninya juga harus ikut. Tidak mungkin PTPN bisa sejahtera kalau petani yang menjadi mitranya tidak sejahtera,” kata Jatmiko.

Menurut dia, petani sawit menjadi bagian penting dalam perjalanan PalmCo. Karena itu, perusahaan terus mendorong peningkatan produktivitas, mengurangi kesenjangan produksi, memperkuat kesejahteraan petani, sekaligus mendukung ketahanan pangan dan energi nasional.

Salah satu langkah utama dilakukan melalui percepatan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Sepanjang 2024–2025, program tersebut telah mencapai 36.681 hektare. Hingga 2029, PalmCo menargetkan PSR menyentuh 32 ribu keluarga petani dengan total tambahan luasan mencapai 64 ribu hektare.

Dampaknya mulai terlihat. Produktivitas kebun petani binaan untuk tanaman menghasilkan usia tiga tahun disebut mampu mencapai 23,9 ton per hektare, lebih tinggi dari standar nasional 19 ton per hektare.

“Alhamdulillah, hari ini petani binaan kita bisa bangga menjadi bagian dari PTPN IV PalmCo. Tidak hanya karena mendapat produksi tinggi, namun juga mendapat jaminan harga yang kompetitif di setiap daerah,” ujar Jatmiko.

Pengalaman Regional III Riau menjadi salah satu contoh yang dipelajari dalam studi banding tersebut. Kemitraan yang dibangun bertumpu pada empat pilar, yakni single management, penyediaan bibit sawit unggul bersertifikat, pelatihan off-taker, serta penguatan kelembagaan petani.

Jatmiko menyebut kemitraan di Riau telah berlangsung sekitar empat dekade. Perjalanan panjang itu tidak selalu mulus. Perbedaan pemahaman, komunikasi, hingga perubahan lanskap industri sawit pernah menjadi tantangan perusahaan dan petani.

Namun, pengalaman tersebut mendorong perusahaan kembali memperkuat prinsip awal kemitraan: tumbuh dan berkembang bersama petani. Penguatan dilakukan semakin masif sejak 2019 melalui inisiatif BUMN untuk Sawit Rakyat.

“Kami akhirnya menyadari bahwa kami harus kembali lagi ke khittah, kami dibentuk untuk berdampingan bersama petani,” katanya.

Konsep single management dalam PSR, lanjut Jatmiko, bukan untuk mengambil alih pengelolaan kebun petani. Pola tersebut diarahkan untuk memastikan pembangunan dan pemeliharaan kebun memenuhi standar sehingga produktivitas dan hasil yang diterima petani lebih terjaga.

“Single management bukan berarti kami mau menguasai petani. Kami ingin memastikan hasil yang nantinya diterima petani itu sesuai standar,” jelasnya.

Region Head PTPN IV Regional III Bambang Budi Santoso menambahkan, kepercayaan petani harus dibuktikan melalui pendampingan yang konsisten, kualitas kebun, produktivitas, transparansi, serta keterbukaan perusahaan terhadap kritik.

“Tips kami adalah membangun hubungan yang harmonis dengan komunikasi yang kuat, tetapi saling memahami. Tidak bisa saling menang sendiri,” ujarnya.

Penguatan kemitraan juga didukung ketersediaan bibit unggul bersertifikat. Regional III memiliki tujuh sentra pembibitan di Tandun, Rokan, Sungai Pagar, Tanah Putih, Air Molek, Lubuk Dalam, dan Dumai.

Bibit tersebut tidak hanya disediakan bagi petani mitra, tetapi juga dapat diakses masyarakat. Langkah ini ditujukan untuk menekan risiko penggunaan bibit berkualitas rendah yang dapat memengaruhi produktivitas kebun dalam jangka panjang.

Kepala Divisi PSR PTPN IV PalmCo Abdul Muthalib mengatakan pengalaman Regional III menjadi referensi untuk memperkuat pola kemitraan di wilayah PTPN IV lainnya, termasuk Regional V di Kalimantan.

Menurut dia, karakter perkebunan Regional III dan Regional V memiliki sejumlah kemiripan karena sama-sama memiliki hubungan erat dengan kawasan plasma dan masyarakat. Karena itu, praktik kemitraan di Riau dinilai relevan untuk dipelajari dan disesuaikan dengan kondisi setempat.

Studi banding tersebut menjadi ruang bagi petani dan pemangku kepentingan dari Kalimantan untuk melihat langsung pola kemitraan yang telah berjalan. Bagi Abdul, contoh nyata menjadi cara penting untuk membangun keyakinan petani.

"Starting point-nya sekarang adalah membuat pola yang sama seperti di Regional III. Petani itu pasti ingin melihat contoh. Kalau mereka melihat contohnya berhasil, mereka akan lebih yakin," ujarnya.***

#Ekonomi

Index

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index