Rohul (BIC)-Hingga awal 2026, tercatat lebih dari 2.500 petani sawit di Kabupaten Rokan Hulu telah menjadi mitra dan tumbuh berkembang bersama PTPN IV PalmCo melalui entitasnya di Provinsi Riau, PTPN IV Regional III.
Data yang dirangkum menunjukkan bahwa entitas yang sebelumnya dikenal sebagai PTPN V itu tidak hanya memenuhi kewajiban 20 persen kemitraan plasma sesuai regulasi pemerintah, namun telah melampauinya dengan total luas areal mitra mencapai 5.271 hektare.
Group Manager Distrik Petani Mitra PTPN IV Regional III, Ferry P Lubis saat dikonfirmasi mengatakan para petani mitra tersebut tergabung ke dalam tujuh kelembagaan dalam bentuk lembaga pekebun.
"Sejak awal keberadaan PTPN IV di Rokan Hulu adalah untuk tumbuh dan berkembang bersama petani mitra. Itu adalah khittahnya PTPN. Dan kami masih membuka ruang kolaborasi serta sinergi seluas-luasnya untuk maju bersama," kata Ferry dikonfirmasi dari Rokan Hulu, Rabu (14/1/2026)
Dari tujuh lembaga pekebun petani yang bermitra, lanjut Ferry, dua diantaranya bahkan telah memenuhi standar global dengan meraih sertifikasi roundtable on sustainable palm oil (RSPO). Kedua koperasi tersebut adalah Makarti Jaya dan Dayo Mukti. Dengan adanya sertifikasi tersebut, petani memeperoleh beragam insentif harga terbaik sehingga meingkatkan pendapatan mereka.
Ke depan, ia mengatakan para petani lainnya turut akan mendapat sertifikasi serupa. Komitmen tersebut, ujar Ferry, bukan hanya sebagai peningkatan pendapatan semata, namun sebagai bentuk kesadaran petani akan isu-isu keberlanjutan sesuai standar internasional.
Lebih jauh, Ferry menjelaskan seluruh petani yang bermitra dengan PTPN IV Regional III juga telah melangsungkan peremajaan sawit renta mereka, baik melalui program revitalisasi maupun program peremajaan sawit rakyat (PSR).
"Melalui pola PSR misalnya, petani mendapatkan manfaat berupa jaminan produksi. PTPN IV Regional III menjamin produksi para petani di atas standar nasional. Di bawah itu, kami ganti rugi. Dan alhamdulillah, dengan kerjasama yang baik, produksi petani sangat luar biasa," jelasnya.
Inisiatif tersebut, kata dia lagi, juga sejalan dengan upaya pemerintah untuk mempersempit selisih produksi sawit petani dengan perusahaan, yang selama ini memiliki jurang yang cukup besar.
"Intinya, komitmen kami adalah bagaimana petani memiliki pendapatan tinggi, dan produksi melimpah. Sehingga, petani menjadi bagian tak terpisahkan untuk mewujudkan asta cita Presiden Prabowo, ketahanan pangan dan energi nasional," paparnya.
Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Inti Rakyat (Aspekpir) Setiyono menambahkan kemitraan yang terjalin para petani dengan PTPN IV melalui penerapan pola single management membawa manfaat besar bagi petani mitra. Menurutnya, pola pengelolaan terpadu yang dilakukan perusahaan tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperkuat tata kelola kemitraan yang lebih transparan, profesional, dan berkeadilan.
"Dulu, bahasa single management sempat jadi momok di kalangan petani. Namun kenyataannya, PTPN justru memberikan kesempatan yang luas kepada petani untuk terlibat langsung dan berkembang. Petani tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga bagian aktif dari sistem pengelolaan yang profesional," jelas Setyono.
Single management sendiri merupakan pola pengelolaan seluruh proses budidaya kelapa sawit petani secara terpadu. Mulai dari peremajaan hingga pemanenan, dengan standar perusahaan yang tinggi.
Sistem ini mencakup operational excellence, kesetaraan produktivitas antara kebun perusahaan dan petani, pemberdayaan petani melalui program cash for works, korporatisasi kelembagaan petani, serta prinsip transparansi dalam seluruh aktivitas pengelolaan. Setiyono menegaskan bahwa sistem ini mampu mendorong peningkatan produktivitas kebun plasma hingga setara dengan kebun inti perusahaan.
"Produktivitas tinggi, bahkan usia sawit muda sudah menghasilkan TBS dengan volume luar biasa. Ini bukti bahwa ketika petani dilibatkan, hasilnya nyata," tuturnya.
Selain peningkatan produksi, single management juga membuka peluang ekonomi baru bagi petani melalui pola kemitraan yang inklusif.
Petani tidak hanya mendapatkan pendapatan dari hasil kebun, tetapi juga terlibat sebagai tenaga kerja dalam kegiatan operasional kebun maupun sebagai kontraktor lokal.
"Single management ini tidak tertutup, bahkan sangat terbuka. Kami para petani didorong untuk menjadi mitra dalam berbagai kegiatan, termasuk sebagai kontraktor. Pola ini membuat hubungan antara petani dan perusahaan menjadi setara, saling menguntungkan, dan saling membutuhkan," tutupnya.***