Pekanbaru (BIC)-PTPN IV PalmCo Regional III berhasil meraih penghargaan Best Initiative on Smallholders Palm Oil Replanting Program in Riau Province.
Penghargaan diterima PTPN IV Regional III atas komitmennya memperkuat ketahanan pangan melalui beragam inisiatif, terutama akselerasi peremajaan sawit rakyat (PSR) serta inisiatif program tanam padi PTPN melalui skema intercropping pada areal PSR di Bumi Lancang Kuning.
"Ini bukan hanya penghargaan bagi PTPN IV Regional III, tapi juga untuk seluruh petani yang terus tumbuh dan berkembang bersama kami," kata Region Head PTPN IV Regional III Ahmad Gusmar Harahap dalam keterangan tertulisnya di Pekanbaru, Jumat (29/8/2025).
Ia mengatakan, penghargaan tersebut kian menguatkan komitmen PTPN IV Regional III untuk terus menghadirkan manfaat nyata secara berkelanjutan.
PTPN IV Regional III diketahui menjadi salah satu perusahaan paling progresif dalam mengakselerasi program PSR di Riau. Hingga medio 2025 ini, lebih dari 10.700 hektare kebun sawit petani renta telah berhasil diremajakan melalui program PTPN Untuk Sawit Rakyat.
Langkah strategis ini ditempuh untuk mengatasi persoalan kebun sawit rakyat yang sudah berusia tua dan tidak produktif. Keterbatasan kemampuan managerial kebun berkelanjutan serta dibayangi keberadaan bibit sawit palsu juga menjadi salah satu alasan kuat kehadiran PTPN IV Regional III.
Atas beragam persoalan tersebut, kata Gusmar, PTPN IV Regional III hadir dengan beragam inisiatif, mulai dari penerapan manajemen tunggal bagi petani peserta PSR, penerapan skema cash for works, hingga penyediaan bibit sawit unggul bersertifikat di enam sentra pembibitan seluruh Riau.
"Pilar pertama adalah penerapan Pola Manajemen Tunggal (Single Management), yaitu integrasi manajemen antara kebun inti dan kebun petani mitra. Dalam sistem ini, petani tetap sebagai pemilik lahan, namun pengelolaan teknis dan agronomis dilakukan sepenuhnya oleh tim profesional PTPN IV," ujarnya.
Dengan begitu, maka akan tercipta keseragaman praktik budidaya berkelanjutan, serta menjadi kunci dalam memenuhi tuntutan pasar global terhadap produk sawit yang traceable dan sustainable.
Kemudian, pendekatan pola padat karya (Cash for Works) turut memungkinkan petani plasma yang sedang menjalani masa tanam belum menghasilkan (TBM) memperoleh pendapatan.
Langkah ini tidak hanya menjadi solusi ekonomi saat produktivitas belum maksimal, namun juga menjadi sarana edukasi dan transfer pengetahuan. "Petani dilatih secara langsung tentang praktik budidaya sawit yang baik, dari teknik peremajaan hingga panen berstandar industri," ujarnya.
Tak hanya itu, Gusmar turut menjelaskan jika PTPN IV Regional III juga telah mendistribusikan lebih dari 2 juta batang bibit unggul bersertifikat kepada petani sebagai solusi atas persoalan bayang-bayang bibit palsu.
“Di saat banyak pihak menutup kran distribusi bibit unggul, kami justru membukanya lebar-lebar. Ini adalah wujud nyata bagi kami untuk dapat berkontribusi meningkatkan produktivitas petani secara berkelanjutan," paparnya.
Lebih jauh, Gusmar menuturkan dalam setahun terakhir, pihaknya turut menempuh inisiatif lainnya untuk mengoptimalkan areal PSR melalui program intercropping padi Gogo. Program itu menjadi kesempatan bagi petani untuk mengoptimalkan sawit muda mereka yang belum menghasilkan untuk menjadi tempat tumbuh padi Gogo.
Program itu sendiri telah terlaksana di sejumlah kabupaten di Provinsi Riau, seperti Kampar dan Siak.
Gusmar bilang jika penghargaan yang diberikan oleh salah satu media arus utama Tribun Pekanbaru melalui Tribun Awards 2025 menjadi bukti bahwa upaya PTPN IV Regional III dalam membangun kemitraan berbasis kepercayaan dan keberlanjutan tidak sekadar narasi, tapi telah menghasilkan dampak nyata.
Dengan model pengelolaan yang solid, pendekatan teknologi, dan komitmen terhadap kesejahteraan petani, PTPN IV Regional III kini menjadi role model nasional dalam implementasi PSR dan penguatan kemitraan sawit rakyat.
“Ini bukan akhir, tapi awal dari perjalanan panjang kita bersama petani. Kami percaya, masa depan industri sawit Indonesia ada di tangan petani yang mandiri, profesional, dan berdaya saing tinggi,” pungkas Ahmad Gusmar.***