Bondowoso (BIC)-Lereng Ijen selama puluhan tahun dikenal sebagai rumah bagi salah satu kopi arabika terbaik Indonesia. Namun di balik harum kopi yang mendunia, kegelisahan justru mengendap di hati ribuan pekerja perkebunan.
Bukan cuaca ekstrem atau fluktuasi harga pasar yang menjadi sebab, melainkan konflik lahan yang tak kunjung menemukan ujung.
Bagi pekerja Perkebunan Nusantara, kebun kopi bukan sekadar hamparan tanaman. Ia adalah sumber nafkah, ruang hidup, sekaligus penopang masa depan keluarga. Ketika kebun terguncang, kehidupan mereka ikut terancam.
Kegelisahan itu memuncak pada Selasa (6/1). Ribuan pekerja yang tergabung dalam Serikat Pekerja Perkebunan Nusantara XII (SPBUN NXII) mendatangi Kantor Pemerintah Kabupaten Bondowoso.
Dengan aksi damai, mereka menyuarakan kekecewaan dan kelelahan atas konflik agraria berkepanjangan di kawasan Java Coffee Estate (JCE) dan Kebun Blawan, dua perkebunan kopi negara di bawah pengelolaan PTPN di sekitar Ijen.
Aksi tersebut bukan sekadar tuntutan normatif. Ia menjadi potret kelelahan psikologis pekerja yang sejak September 2023 bekerja dalam bayang-bayang ketidakpastian hukum, intimidasi, hingga ancaman keselamatan.
“Kami hanya ingin bekerja dengan tenang,” ujar Ketua SPBUN NXII, Bramantyo, di hadapan massa. “Konflik ini terlalu lama dibiarkan. Dampaknya bukan hanya pada pekerjaan, tetapi juga pada keluarga kami.”
Kebun Rusak, Rasa Aman Hilang
Skala kerusakan yang ditimbulkan konflik ini bukan perkara kecil. Data internal perusahaan mencatat, sejak konflik mencuat pada 2023 hingga akhir 2025, sekitar 237.605 pohon kopi produktif di lahan seluas kurang lebih 170 hektar rusak akibat penebangan dan perusakan ilegal. Kerugian materiil ditaksir mencapai Rp13,5 miliar.
Namun bagi pekerja, angka tersebut hanyalah bagian kecil dari penderitaan yang mereka alami. Setiap pohon kopi yang ditebang berarti berkurangnya jam kerja, terancamnya keberlanjutan produksi, dan semakin tidak pastinya pendapatan keluarga.
Situasi memburuk sepanjang 2025. Setelah sempat mereda, aksi perusakan kembali terjadi dengan pola lebih masif dan terorganisir. Puluhan ribu pohon ditebang dalam rentang Oktober hingga Desember. Akses menuju sejumlah afdeling ditutup portal kayu, posko-posko ilegal bermunculan, dan mobilitas pekerja semakin terbatasi.
“Berangkat kerja sekarang bukan hanya soal target produksi, tapi juga rasa takut,” ungkap seorang pekerja yang enggan disebutkan namanya. Ia mengaku keluarganya hidup dalam kecemasan. “Istri dan anak-anak kami ikut merasakan. Ini sudah jadi trauma kolektif.”
Konflik Agraria yang Membeku
Kawasan JCE dan Blawan bukan sekadar aset ekonomi, tetapi bagian dari ekosistem kopi Ijen Raung yang dikenal di pasar internasional. Kopi arabika dari wilayah ini menjadi kebanggaan ekspor Indonesia.
Namun konflik agraria yang berlarut-larut membuat potensi itu tergerus. Para pekerja menilai negara belum hadir secara tegas dalam memastikan penegakan hukum atas lahan Hak Guna Usaha (HGU) yang dikelola PTPN. Konflik, menurut mereka, telah menjurus pada perusakan aset negara dan ancaman nyata terhadap keselamatan warga.
Dalam tuntutannya, SPBUN NXII meminta Bupati Bondowoso mengambil peran aktif memimpin penegakan hukum yang adil dan tegas. Mereka juga mendorong pembentukan tim investigasi independen untuk mengusut perusakan kebun, intimidasi, dan ancaman tanpa intervensi kepentingan apa pun.
“Ini bukan semata membela perusahaan,” tegas Bramantyo. “Ini tentang keberlanjutan hidup ribuan keluarga dan wibawa hukum negara.”
Drama Sosial di Balik Hamparan Kopi
Di balik hijau kebun kopi Ijen, drama sosial itu berlangsung senyap. Rumah dinas yang rusak, jalan kebun yang dipalang, serta rasa waswas yang mengendap di benak pekerja kini menjadi keseharian. Konflik yang membeku tidak hanya merusak tanaman, tetapi juga merapuhkan tatanan sosial komunitas perkebunan.
Bagi para pekerja, aksi damai ini adalah seruan terakhir agar negara hadir. Mereka tidak menuntut keistimewaan, melainkan kepastian: hukum ditegakkan, keamanan dijamin, dan martabat kerja dipulihkan.
“Permintaan kami sederhana,” ujar seorang pekerja perempuan sambil menggendong anaknya.
“Kami ingin kebun ini kembali aman. Supaya suami kami pulang kerja tanpa rasa takut, dan anak-anak kami punya masa depan.”
Di lereng Ijen, kopi memang tumbuh dari tanah vulkanik yang subur. Namun tanpa kepastian hukum dan kehadiran negara, yang tumbuh hari ini justru kekecewaan dan luka sosial yang kian dalam.***
